Rabu, 25 April 2012

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM PEMBANGUNAN DI BIDANG PERTANIAN



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pada era 80-an Indonesia telah mencapai swasembada pangan. Akan tetapi, kini Indonesia justru mengimpor pangan dari negara lain. Mengapa hal itu bisa terjadi? Padahal sebagian besar lahan yang ada di Indonesia sangat produktif sebagai lahan pertanian karena Indonesia merupakan negara agraris, banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Faktor pembanding yang nampak terlihat pada era 80-an dan era global saat ini yaitu terletak pada arah kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah terkait kesejahteraan petani. Kurangnya penyaluran informasi yang sampai kepada petani merupakan salah satu pemicu lambatnya pembangunan sektor pertanian Indonesia.
Mengapa pertanian di negara maju lebih cepat berkembang dibandingkan dengan pertanian di Indonesia? Hal ini tentunya tidak terlepas dari masalah keterbatasan-keterbatasan sektor pertanian Indonesia, seperti keterbatasan pengetahuan petani, keterbatasan komunikasi antarpetani, dan keterbatasan usia produktif, serta keterbatasan sumber daya manusia (SDM).
Keterbatasan pengetahuan petani dapat kita lihat dari rendahnya tingkat pendidikan petani. Pada umumnya, petani menyelesaikan pendidikannya hanya sampai jenjang SD dan SLTP. Kurangnya pengetahuan tentang pilihan – pilihan potensial dalam meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan meningkatkan produktivitas hasil usaha taninya. Hal ini tentunya akan berpengaruh besar terhadap pembangunan sektor pertanian. Banyak potensi lahan marjinal yang sebenarnya dapat diarahkan menjadi lahan produktif. Permasalahannya yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat pemilik lahan dalam upaya memanfaatkan penggunaan lahan, pada umumnya masyarakat tidak tertarik dalam mengelola lahan yang dimilikinya. Masyarakat hanya memiliki lahan hanya untuk sekedar investasi saja, kemudian menjualnya kembali ketika lahan tersebut sudah mencapai harga tinggi atau bahkan menggunakan lahan untuk pembangunan gedung-gedung dan perumahan.
Masalah keterbatasan komunikasi antarpetani meliputi jarak yang jauh, kendala-kendala fisik (sungai yang lebar, barisan gunung) dan perbatasan nasional antar masyarakat tani, khusunya di daerah – daerah yang tidak memiliki fasilitas transportasi umum atau jika ada fasilitas namun biaya yang harus dikeluarkan tidak terjangkau oleh petani. Dengan adanya keterbatasan tersebut, petani memiliki pengetahuan hanya sebatas pengetahuan lokal. Sehingga dampaknya, petani kurang mendapatkan informasi-informasi seputar pertanian yang maju.
Selain keterbatasan-keterbatasan yang disebutkan di atas, terdapat satu keterbatasan yang nampak nyata pada saat ini yaitu keterbatasan generasi-generasi penerus sektor pertanian yang berusia produktif (usia muda). Yang kini kehadirannya mulai dipertanyakan. Pada dasarnya generasi usia produktif saat ini lebih memilih bidang lain dibandingkan dengan bidang pertanian, karena mereka berfikir pertanian merupakan profesi yang tidak berkompeten, kumuh, dan bersifat kasar. Mereka beranggapan bahwa pertanian tidak dapat menjanjikan masa depan yang cerah. Hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan bidang lain. Pemikiran-pemikiran tersebut mulai muncul ketika melihat pengalaman-pengalaman orang tuanya yang terlebih dahulu menjadi petani atau orang- orang disekitarnya yang berprofesi sebagai petani. Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang menjadikan pertanian seakan tidak menarik untuk dikembangkan.
Adanya permasalahan-permasalahan ini, memunculkan suatu pemikiran untuk mencari suatu solusi alternatif dalam mengatasi keterbatasan-keterbatasan sektor pertanian secara efektif dan efisien sebagai usaha dalam meningkatkan pembangunan sektor pertanian.
Dengan seiring berkembangnya jaman, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mengambil peran penting di dalam meningkatkan pembangunan sektor pertanian. Utamanya dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi sektor pertanian. Internet merupakan salah satu bagian dari teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang dihadirkan dari berkembangnya arus globalisasi. Internet menyajikan banyak data dan informasi secara mendunia dan tidak membatasi siapapun yang akan menggunakannya. Namun, kini hadirnya internet belum dapat dirasakan oleh masyarakat tani. Jika dikaji kembali, TIK menjanjikan berbagai macam keuntungan pada sektor pertanian. Dengan memanfaatkan internet sebagai media alternatif, para petani dapat mencari segala informasi seperti pemeliharaan tanaman dan hewan, pemberian pupuk, irigasi, ramalan cuaca dan harga pasar  yang dibutuhkan untuk pengolahan pertaniannya dan dapat pula digunakan oleh masyarakat desa untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomian. Melalui komunikasi dengan orang lain petani dapat menjual produk pertaniannya kepada masyarakat maupun perusahaan diberbagai penjuru dunia. Dengan demikian, diharapkan dapat sedikit membantu mengatasi kesulitan para petani dalam upaya meningkatkan produktivitas bahan pangan serta produk pertanian lain yang nantinya dapat bersaing dengan negara lain sehingga masyarakat memiliki kesejahteraan ekonomi yang lebih baik.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memberikan solusi kepada para petani untuk dapat berkomunikasi dan memperoleh informasi dari berbagai penjuru dunia. Sehingga petani dapat menjawab permasalahan yang dihadapinya dari komoditas yang sedang diusahakannya.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.      Mendorong terbentuknya jaringan informasi pertanian di tingkat lokal dan nasional.
2.      Mendorong petani agar memanfaatkan informasi dalam kegiatan pengembangan, pengelolaan lahan pertanian secara langsung maupun tidak langsung.
3.      Membantu mengurangi hambatan dalam upaya memasyarakatkan TIK sebagai usaha dalam pembangunan di bidang pertanian.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa, antar manusia diseluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas- batas suatu negara menjadi sempit (Wikipedia, bahasa Indonesia). Kemajuan teknologi dewasa ini membawa kita kepada dunia global termasuk dibidang informasi. Globalisasi informasi dewasa ini tidak lagi hanya diartikan sebagai arus komunikasi massa dalam arti sekedar penyebarluasan siaran televisi dan hiburan saja, namun sudah mencakup perluasan arus informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong perluasan cakrawala informasi dan wawasan manusia. Dalam perkembangan globalisasi, dunia pertanian seakan dituntut untuk turut serta di dalamnya. Sistem pertanian modern yang di hadirkan di arus globalisasi, memberikan pengaruh-pengaruh nyata terhadap pembangunan sektor pertanian.
Jika berbincang mengenai informasi tentunya tidak terlepas dari peranan TIK. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian  dari ilmu pengetahuan  dan teknologi (IPTEK) secara umum adalah semua  yang teknologi berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan (akuisisi),  pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi (Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006: 6).
Di Indonesia, bidang teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu dari enam bidang fokus utama pengembangan iptek (Ristek 2005), yaitu:
[1] Ketahanan pangan,
[2] Sumber energi baru dan terbarukan,
[3] Teknologi dan manajemen transportasi,
[4] Teknologi informasi dan komunikasi,
[5] Teknologi pertahanan, dan
[6] Teknologi kesehatan dan obat-obatan.
Salah satu bidang yang sangat berpengaruh dengan hadirnya TIK adalah bidang pertanian. Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya (Wikipedia, Bahasa Indonesia). Informasi pertanian merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam produksi dan tidak ada yang menyangkal bahwa informasi pertanian dapat mendorong ke arah pembangunan yang diharapkan. Informasi pertanian merupakan aplikasi pengetahuan yang terbaik yang akan mendorong dan menciptakan peluang untuk pembangunan.
TIK mempunyai tiga peranan pokok terhadap sektor pertanian yaitu :
1.      TIK merupakan instrumen dalam mengoptimalkan proses pembangunan, yaitu dengan memberikan dukungan terhadap manajemen dan pelayanan kepada petani.
2.      TIK mampu memberikan peningkatan pendapatan baik bagi perorangan, dunia usaha dan bahkan negara dalam bentuk devisa hasil ekspor.
  1. TIK bisa menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa, melalui pengembangan sistem informasi yang menghubungkan seluruh wilayah nusantara, yang menjangkau sampai ke pulau-pulau terpencil dan pedesaan.
Berbagai peralatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) banyak mengalami perkembangan seiring dengan hadirnya globalisasi. Peralatan TIK adalah peralatan yang digunakan untuk mendapatkan berkomunikasi dan mendapatkan suatu informasi yang dibutuhkan melalui media elektronik maupun media cetak. Dengan adanya peralatan TIK petani mendapatkan berbagai kemudahan-kemudahan dalam berkomunikasi dan mendapatkan suatu informasi relevan yang dapat menjawab persoalan-persoalan yang terkait dengan pertanian. Peralatan-peralatan TIK yang dimaksud diantaranya : komputer, laptop, deksbook, komputer genggam/ Personal Digital Assistant (PDA), kamus elektronik, flash disk, televisi, radio, koran, majalah, telepon, internet, email, dan pos.
Berikut adalah peralatan yang temasuk ke dalam Teknolgi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang dapat dimanfaatkan oleh petani :
  1. Kalkulator
Merupakan alat yang dapat digunakan petani untuk memperoleh informasi hasil perhitungan angka.
  1. Komputer
Merupakan alat berupa hardware dan software yang dapat digunakan oleh petani untuk membantu petani dalam mengolah data menjadi informasi dan menyimpannya untuk ditampilkan dilain waktu. Informasi yang dihasilkan komputer berupa tulisan, gambar, suara, video dan animasi.
  1. Laptop
Laptop merupakan peralatan yang fungsinya sama dengan komputer namun bentuknya praktis dapat dilipat dan mudah dibawa kemana saja karena menggunakan bantuan baterai charger sehingga bisa digunakan tanpa menggunakan listrik. Dengan adanya laptop, petani dapat dengan mudah memberikan suatu informasi kepada petani lainnya tanpa mengenal tempat baik itu di sawah, di ladang, di pekarangan, di hutan, dll.
  1. Deskbook
Deksbook memiliki manfaat yang sama dengan komputer. Deksbook merupakan peralatan sejenis komputer yang bentuknya praktis yaitu CPU menyatu dengan monitor tetapi masih harus menggunakan listrik langsung karena belum dilengkapi baterai.
  1. Personal Digital Assistant (PDA) / Komputer genggam
Peralatan ini sejenis komputer namun bentuknya sangat kecil sehingga dapat dimasukan saku, manfaatnya hampir sama dengan komputer dapat mengolah data, bahkan sekarang banyak PDA yang juga dapat berfungsi sebagai Handphone (PDA Phone).
  1. Kamus Elektronik
Kamus elektronik adalah peralatan elektronik yang dapat dimanfaatkan oleh petani untuk menterjemahkan antar bahasa yang tidak dapat ia mengerti. Sehingga petani akan lebih mudah memahami dan mengetahui informasi yang diperoleh.
7.      Flash Disk
Flas disk yaitu sebuah peralatan yang berbentuk universal serial bus dapat dimanfaatkan oleh petani sebagai media menyimpan data dalam jumlah banyak.
8.      Televisi
Televisi adalah peralatan teknologi yang dapat digunakan petani untuk memperoleh informasi dalam bentuk gambar bergerak / video secara langsung .
9.      Radio
Fungsi dan manfaat radio tidak jauh berbeda dengan televisi. Hanya saja informasi yang diperoleh dari radio berupa suara dari station pemancar melalui frekuensi yang telah ditetapkan.
10.  Koran
Koran merupakan media cetak yang dapat digunakan petani untuk memperoleh informasi yang berupa tulisan dan gambar yang terbit setiap hari.
11.  Majalah
Majalah merupakan media cetak yang dapat dimanfaatkan petani untuk mencari sebuah  informasi yang berupa tulisan dan gambar yang terbit secara rutin setiap minggu atau bulanan.
12.  Telepon
Telepon merupakan media teknologi komunikasi yang dapat dimanfaatkan oleh petani untuk berkomunikasi antara dua orang atau lebih.
13.  Internet
Internet merupakan media TIK yang dapat membantu petani dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi.

14.  Email
Email merupakan media komunikasi yang dapat dimanfaatkan oleh petani untuk berkirim informasi atau data melalui internet. Komunikasi melalui email dinilai lebih efisien selain tidak perlu membayar proses pengirimannya, proses pengirimannya sangat cepat sampai kepada yang dituju.
15.  POS
Pos merupakan media yang dapat dimanfaatkan petani untuk pengiriman data melalui jasa pengiriman paket pos. Namun proses pengirimannya membutuhkan waktu yang cukup lama.

BAB III
METODE PENULISAN
Dalam karya tulis ilmiah yang berjudul Teknologi Informasi dan Komunikas (TIK) Dalam Pembangunan di Bidang Pertanian ini, metode yang digunakan yaitu penyelidikan deskriptif yang tertuju pada pemecahan masalah dengan cara menuturkan, mengkaji atau menganalisa, dan mengklasifikasi serta menginterpretasikan mengenai masalah – masalah yang berkaitan dengan topik karya tulis ilmiah dari berbagai sumber pustaka.
Pada penyelidikan, digunakan beberapa teknik diantaranya : teknik studi kasus, studi waktu, dan analisa tingkah laku.
Penulisan karya tulis ilmiah ini dilaksanakan pada tanggal 9 April 2012 s.d 19 April 2012 di Bandar Lampung.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari berbagai literatur yang telah dikumpulkan, diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Data Pengguna Internet di Wilayah Asia Pada Tahun 2011
Asia Internet Usage and Population



Tabel 2. Data Rangking Top 10 Pengguna Internet di Asia tahun 2011
Asia Top Internet Countries

Dari sumber yang telah diperoleh, ternyata perkembangan TIK sudah sangat pesat yaitu ditandai dengan banyaknya jumlah pengguna internet di kawasan Asia pada umumnya dan khususnya pada Indonesia. Indonesia meraih posisi 5 besar dari 28 Negara di kawasan Asia sebagai penyuplai pengguna internet. Berdasarkan analisa data, Indonesia menempati urutan keempat setelah China, India, dan Jepang. Dari 245.613.043 jiwa jumlah penduduk indonesia yang ada di tahun 2011, 39.600.000 yang telah menjadi pengguna internet. Hal ini membuktikan bahwa tingginya antusias dari masyarakat Indonesia dalam menyambut perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang seiring muncul dalam arus globalisasi.
Sebagai negara pengguna internet tertinggi, China merupakan negara yang patut kita contoh pembangunan pertaniannya. China menunjukkan kehebatan mereka dalam memproduksi sayur, buah, ikan, dan produk ternak yang berkualitas. Produksi hortikultura China terus meningkat. Luas lahan untuk sayuran dari 10,5 juta hektar pada 1996 menjadi 18 juta hektar pada 2003. Luas lahan produksi buah-buahan naik dari 8,1 juta hektar menjadi 9,4 juta hektar. Berdasarkan literatur, buah-buahan dari China kini sudah menyebar di seluruh belahan dunia, mulai dari supermarket dan toko buah kelas atas, sampai ke tukang buah pinggir jalan di ujung-ujung gang negeri ini. Semua itu adalah buah dari kesungguhan serta kegigihan mereka membangun dan mengembangkan dunia pertanian. Sampai saat ini pun produk pertanian China masih men­dominasi pasar bahan pangan dunia. Hal ini tentunya tidak terlepas dari peranan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang dapat berkembang dengan baik di wilayah petani-petani China.
Negara pengguna internet terbanyak kedua di Asia adalah India. India merupakan sebuah negara yang sektor pertaniannya maju. Ada tiga kunci sukses keberhasilan pembangunan pertanian India: kebijakan makro yang mendorong kemajuan sektor pertanian, dukungan sumber daya manusia yang terintegrasi, dan semangat petani. Peningkatan produksi pangan India lepas itu diawali dengan kebijakan makro yang berpihak pada sektor pertanian. Anggaran besar-besaran dialokasikan untuk pembangunan jaringan irigasi dan pabrik pupuk. Pabrik pupuknya terbesar kedua setelah China. Kebijakan juga terasa kuat dalam pengembangan sumber daya manusia. Saat ini di India sudah ada 40 universitas yang melahirkan 32.000 sarjana per tahun. Sasaran utama, membangun SDM berkualitas yang mau ke desa untuk melakukan riset dan membangun pertanian. Jaringan informasi dan komunikasi yang berkembang sangat cepat. Jumlah koneksi internet di India telah menyeberangi tanda dua juta dan jumlah sambungan telepon lebih dari 22 juta. Konektivitas internet telah menyentuh hampir semua kabupaten di negara ini dan bergerak turun ke tingkat blok dan Mandal. Pilot proyek yang dapat menghubungkan masyarakat pedesaan ke ruang cyber sedang berlangsung di berbagai lokasi.
Setelah India, negara pengguna internet terbanyak adalah negara Jepang. Jepang merupkan negara yang sektor pertaniannya pun tidak kalah bersaing dengan pertanian di negara-negara maju lainnya. Menurut informasi yang diperoleh, porsi lahan pertanian Jepang hanya 25% dari total wilayahnya yang sebagian besar berupa pegunungan. Namun jumlah yang kecil tersebut mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian Jepang. Hal ini dilatarbelakangi oleh sumber daya alam yang miskin, Jepang menjadi bangsa yang berpola fikir untuk selalu berkreasi dan menciptakan di segala bidang termasuk bidang pertaniannya. Penerapan teknologi komunikasi dan informasi contohnya yaitu metode penyuluhan yang ada di Jepang. Di Jepang, formulasi penyebaran informasi sebagai promosi, mengawali kegiatan penyuluhan dan komunikasi inovasi teknologi, bertumpu pada penggunaan komputer dan teknologi informasi yang lebih efektif dan efisien. Materi informasinya bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga inovasi kelembagaan, metode penyelenggaraan penyuluhan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya. Pemeran utama dalam hal ini justru bukan semata dari kelembagaan Pemerintah Jepang, melainkan juga dari Organisasi Non Pemerintah yaitu Asosiasi Pembangunan dan Penyuluhan Pertanian Jepang (Japan Agricultural Development and Extension Assosiation).
Banyaknya pengguna internet berbanding lurus dengan kemajuan suatu negara. Dengan mengetahui jumlah pengguna internet yang ada di Indonesia, seharusnya sektor pertanian Indonesia saat ini dapat bersaing dengan negara seperti China, India dan Jepang. Karena Indonesia sudah menjadi negara 5 besar penyuplai pengguna internet setelah negara-negara tersebut. Lalu mengapa sektor pertanian indonesia sampai saat ini dinilai masih tertinggal jauh dari pertanian negara-negara-negara penyuplai pengguna internet terbanyak? Hal ini dikarenakan diduga kuat hadirnya internet belum optimal dirasakan oleh masyarakat khususnya petani. Nampak jelas dari jumlah penduduk yang ada, baru sekitar 16,12 % masyarakat Indonesia yang dapat menggunakan internet.
Di Indonesia sendiri masih terdapat banyak daerah-daerah yang sektor pertaniannya tertinggal namun juga ada pertaniannya sudah dinilai maju. Jawa Barat merupakan salah satu provinsi termaju di bidang pertanian dalam arti luas. Bahkan muatan visi pembangunan daerah provinsi ini memberikan porsi utama terhadap terwujudnya sektor pertanian termaju dii Indonesia. Selain itu, Jawa Barat juga menempatkan sektor perikanan dan kelautan sebagai salah satu kor-bisnis ( bussiness core) utama di wilayahnya. Berbanding terbalik dengan salah satu daerah di provinsi Banten, yaitu daerah Pandeglang. Pandeglang merupakan daerah yang pertaniannya dinilai tertinggal. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dikarenakan erat kaitannya dengan TIK yang diterima di daerah pandeglang, terbatasnya infras­truktur perhubungan, rendah­nya produktivitas sektor per­tanian,, banyaknya lahan di Pandeglang yang berubah fungsi dari yang semula lahan pertanian menjadi rumah atau perumahan. Sementara, lahan pengganti tidak disediakan
Tabel 3. Persentase Tingkat Pendidikan Petani Indonesia Tahun 2009
( Menurut Tri Wahyu Cahyono )
Pendidikan
Persentase
SD
36,2%
SLTP
35,4%
SMU
24%
Perguruan Tinggi
4,4%

Faktor penyebab lambatnya aplikasi internet pada petani Indonesia dapat disinyalir dari usia produktif petani dan rendahnya tingkat pendidikan para petani. Jika penulis analisa dari berbagai studi kasus, peranan pendidikan petani juga membawa pengaruh besar terhadap distribusi teknologi secara tepat guna. Dari sumber yang penulis peroleh, persentase  pendidikan petani lulusan SD menempati posisi pertama kemudian diikuti oleh pendidikan tingkat SLTP sebagai posisi tertinggi ke 2. Hal ini mencerminkan rendahnya tingkat pendidikan SDM (Sumber Daya Manusia) petani Indonesia. Dengan rendahnya tingkat pendidikan petani, secara tidak langsung berpengaruh terhadap pengetahuan yang dimiliki. Petani dengan pendidikan rendah tentunya akan memiliki pengetahuan yang rendah pula. Selain rendahnya tingkat pendidikan petani, usia petani berpengaruh besar terhadap lambatnya penyaluran informasi. Petani dengan usia tidak produktif umumnya sulit untuk menerima teknologi baru. Kondisi demikian diyakini sebagai salah satu yang  berdampak pada tingkat inovasi teknologi dan daya saing pertanian Indonesia. Faktor rendahnya usia produktif yang berinovasi. Berdasarkan sumber yang telah diperoleh, petani dengan usia diatas 45 tahun menempati jumlah terbanyak dalam berinovasi, kemudian petani dengan usia 35-45 tahun menempati urutan kedua, usia 25-35 tahun ada pada urutan ke 3 dan di bawah usia 25 tahun menempati urutan ke 4. Persentase usia produktif yang berinovasi justru lebih rendah dibanding dengan usia di atas 45 tahun. Hal ini dikarenakan generasi usia produktif lebih memilih bidang lain yang dianggap lebih menarik dan berkompeten, serta dapat menjamin masa depan yang cerah. dibandingkan bidang pertanian.
Adanya permasalahan-permasalahan ini, memunculkan suatu pemikiran untuk mencari solusi alternatif dalam mengatasi keterbatasan-keterbatasan sektor pertanian secara efektif dan efisien. Dengan tujuan meningkatkan pembangunan sektor pertanian. Sehingga luaran yang diharapkan pertanian Indonesia tidak lagi kalah bersaing dengan pertanian di negara-negara maju seperti China, India dan Jepang. Hal ini tentunya bukan hal yang mudah, namun jika petani Indonesia memiliki tekat yang kuat dan semangat yang tinggi untuk maju tentunya ini bukan hanya sekedar dalam angan belaka. Keberhasilan dan kecepatan dalam pembangunan pertanian , sangat bergantung kepada pilihan strategi dan kebijakan yang harus ditentukan oleh pemerintah.
Upaya-upaya yang harus dilakukan diantaranya yaitu :
1. Mengembangkan Infrastruktur TIK untuk menghubungkan para pihak, dengan cara :
·         ICT (Internet) dan Satcom (Satelit Komunikasi linkage), koneksi video conference ke semua daerah.
  • Penyediaan perangkat keras dan perangkat lunak untuk semua institusi di atas.
  • Membuat pelatihan TIK/ICT dan Konsultasi infrastruktur di tingkat gapoktan, daerah atau bahkan sampai pada tingkat nasional.
  • Mengembangkan IT strategi, misalnya membentuk divisi IT pada struktur gapoktan.
2. Kebijakan pembangunan pertanian jangka panjang. Kebijakan pembangunan pertanian yang diambil telah diperhitungkan memiliki efek jangka panjang untuk keberlangsungan pertanian itu sendiri. Selain itu beberapa kebijakan saling mendukung untuk memunculkan pengaruh yang besar.
3. Meningkatkan aplikasi penggunaan teknologi informasi pada penyuluhan. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di bidang pertanian sangat penting, aplikasi TIK dapat kita terapkan pada saat penyuluhan pertanian Dengan dilengkapinya akses internet di Balai Penyuluhan Pertanian, hal ini akan memudahkan petani memperoleh informasi berupa inovasi teknologi dan kelembagaan yang dibutuhkannya dalam mengupayakan kesejahteraan masyarakat tani yang menjadi tugas pokok, fungsinya serta tanggung jawabnya.
4. Menerapkan metode aplikasi teknologi komunikasi dan informasi pada berbagai kegiatan seperti pada kegiatan penyuluhan dan pendidikan serta pelatihan berinternet. Dengan menerapkan TIK, seperti penggunaan komputer dan teknologi informasi secara efektif dan efisien pada penyuluhan, pendidikan dan pelatihan ketrampilan berinternet. Sebelum mengawali kegiatan tersebut, petani diberikan suatu informasi  dan memberikan inovasi teknologi terkait pertanian. Bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga inovasi kelembagaan pertanian serta ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya. Metode yang diterapkan dapat berupa sosialisasi dan demonstrasi langsung kepada para petani.
5. Mendirikan kios-kios informasi untuk para petani. Dengan didirikannya kios-kios informasi bagi para petani, memperoleh informasi-informasi terkini terkait dengan pertanian.
6. Membuat mekanisme pengemasan informasi bagi lembaga – lembaga pertanian yang berpartisipasi:
  • Peningkatan kapasitas dari semua ahli penyuluhan dalam pengemasan informasi
  • integrasi data pemasaran pertanian (termasuk harga pasar, proyeksi pemasaran negara / kabupaten tertentu)
  • Integrasi informasi tentang berbagai mata pelajaran seperti Peternakan / Hortikultura / Sericulture dll dengan informasi penyuluhan (secara holistik bagi para petani.
Mekanisme pengemasan informasi ini, dapat diterapkan melalui sistem pendekatan organisatoris petani baik secara nasional maupun lokal. Berikut adalah bagan yang seharusnya diterapkan dalam mengemas suatu informasi secara nasional.
Rounded Rectangle: Kelembagaan lokal
                                                                                                                                   
Gambar 1. Mekanisme modifikasi aplikasi teknologi informasi dalam akses informasi mendukung pembangunan pertanian secara nasional (dimodifikasi dari Mulyandari 2005).
Sumber (Internet, penyuluh dll.)
GAPOKTAN
( 1 Kelompok )
Akses
Pengelolaan
- Kaji Terap
- Kaji Tindak
Kelompok
Aplikasi
Gambar 2. Mekanisme modifikasi aplikasi teknologi informasi dalam akses informasi mendukung pembangunan pertanian secara lokal.
7. Melakukan sosialisai sistem pertanian modern. Dengan mensosialisasikan dan menerapkan sistem pertanian modern, selain memudahkan petani, akan menarik partisipasi dari generasi muda (usia produktif) dalam mengembangkan pertanian. Sehingga dapat merubah pola pikir tentang pertanian yang sekarang sedang berkembang pada generasi usia produktif.
Upaya-upaya tersebut perlu dioptimalkan demi terselenggaranya pembangunan  sistem pertanian yang tangguh. Ini akan terealisasi dengan baik jika seluruh instansi pemerintah dan petani yang terkait saling mendukung dan bekerja sama. Pembangunan negeri ada ditangan kita bersama. Jika tidak sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?

 

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil studi kasus yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.      TIK berpengaruh besar terhadap perkembangan dan pembangunan di bidang pertanian.
2.      Distribusi TIK kepada masyarakat khususnya masyarakat tani di Indonesia dinilai masih sangat lemah.
3.      Upaya - upaya perlu dilakukan untuk memasyarakatkan TIK dan  mengaplikasikan TIK secara merata pada masyarakat dimulai dari tingkat lokal hingga tingkat nasional.
5.2 Saran
1. Pada penulisan ini, belum dapat dilakukan teknik survei jumlah petani yang mampu mengakses berbagai macam teknologi, pada penulisan selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan dengan melakukan survei lapang petani yang mampu mengakses peralatan TIK.
2. Pada penulisan ini, menganalisa TIK dalam pembangunan di bidang pertanian, pada penulisan selanjutnya diharapkan dapat menganalisa TIK dalam segala bidang pembangunan.




DAFTAR PUSTAKA
Rejntjes, Coen.dkk.1999.Pertanian Masa Depan.Yogyakarta:Kanisius
Arifin, Anwar.1988.Ilmu Komunikasi.Jakarta:Rajawali Pers.
BIODATA
Nama                          : Fuji Astuti
TTL                            : Banyurejo, 08 September 1992
Alamat                        : Braja Sakti 3, Way Jepara, Lampung Timur
No. HP                        : 085768428954
Alamat e-mail              : fuezii45@gmail.com
Riwayat Pendidikan   :
1)      TK ABA Braja Asri, Way Jepara, Lampung Timur tahun 1998
2)      SD Negeri 4 Braja Sakti Way Jepara, Lampung Timur tahun 2004
3)      SMP Negeri 1 Way Jepara, Lampung Timur tahun 2007
4)      SMA Negeri 1 Way Jepara, Lampung Timur tahun 2010
5)      Sedang menjadi mahasiswa Politeknik Negeri Lampung semester 4 program studi hortikultura.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar